Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Upaya Akun @TrioMacan2000 Membunuh Karakter Dahlan Iskan

Upaya Akun @TrioMacan2000 Membunuh Karakter Dahlan Iskan

CAHYOGYA.COM -  Tapi buka dulu topeng mu… sepenggal syair lagu Peterpan (kini Noah) ini masih enak didengar dan faktual. Paling tidak faktual untuk berita yang satu ini,. Terkonfirmasi @TrioMacan2000 Adalah Raden Nuh. Buat Om Macan.. dah ngaku aje om.. :p


Raden Nuh mengaku sebagai salah satu admin akun twitter @TrioMacan2000. Sempat menawarkan jasa investigasi ke sebuah media massa.

Di antara akun pseudonim di twitter, akun @TrioMacan2000 adalah salah satu yang populer. Akun ini membuat orang geleng kepala karena heran, namun juga membuat sebagian orang lainnya tepok jidad dan bersungut. Bahkan sebagian orang yang dicolek oleh kicauan TrioMacan2000 otaknya langsung mendidih.

Diakui atau tidak, akun ini dengan makmum atau follower TrioMacan2000, yang saat tulisan ini ditayangkan, berjumlah 175.076, sedikit banyak menjadi materi pembicaraan netizens. Sebagian follower kagum dengan data dan cerita yang sering kali berbentuk kuliah twitter, sementara sebagian lainnya membully, mencaci dan meledek.

Yang paling jelas adalah kicauannya soal Pemilukada DKI Jakarta. Jika pada putaran pertama akun ini mendukung Jokowi-Ahok dan mencaci maki Foke, namun pada putaran kedua menjadi pendukung Foke. Bila di putaran pertama ia ciptakan tanda pagar #SaynotoFoke, tapi pada putaran kedua berbalik seratus delapan puluh derajat mendukung Foke dan menyerang Jokowi-Ahok. Bio #NoPartisan dan #NoBayaran pun sudah hilang sejak jadi buzzer aktif yang mendukung Foke.

"Bagaimana di putaran pertama Pilkada DKI Triomacan2000 hantam Foke habis-habisan. Ini tidak lebih untuk mencari perhatian tim sukses Foke. Strategi ini berhasil, di tengah kegalauan Foke yang suaranya tidak sesuai dengan ekspektasi dan ramalan lembaga survei," tulis Effendi Syahputra di tapak waktu alias timeline twitter, 04 September 2012.

Jejak menyebarkan kebencian pada Foke memang sudah dihapus TrioMacan2000 dari time linennya, tapi masih ada website TrioMacan2000 yang mendokumentasikannya.

Sebelum kasus Foke, Triomacan2000 juga sempat menjelek-jelekkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningurum. Sampai akhirnya TrioMacan2000 berbalik memuji-muji dan menjadi pembela setia Anas Urbaningrum.


Jejak Terlacak Dari Jual Data ke Media

Suatu siang ada pertemuan penting di gedung yang terletak di segitiga emas Jakarta. Tanpa diketahui banyak orang, pertemuan ini bisa menjadi petunjuk menguak siapa sebenarnya TrioMacan2000. Di gedung pencakar langit, di sebuah ruangan yang dingin, ada empat orang yang tengah bercakap-cakap. Dua orang berasal dari petinggi media, sementara dua lainnya, yang satu mengaku bernama Raden Nuh.

Raden Nuh yang paling banyak bicara dalam pertemuan itu.  Di awal pertemuan, Raden Nuh mengakui secara jelas kalau ia pemegang akun TrioMacan2000. "Sejak kenalan mereka menyebut sebagai pemilik akun TrioMacan2000," kata salah satu petinggi media yang enggan disebutkan jati dirinya kepada Beritasatu.com beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan yang berlangsung hampir 45 menit itu, Raden Nuh dan temannya menawarkan jasa program investigasi ke media tersebut. TrioMacan2000, seperti dikatakan Raden Nuh dalam pertemuan itu, menjanjikan akan menyuplai data kasus-kasus korupsi. "Sebagai imbalannya ia minta bayaran setahun satu miliar rupiah," ujar sumber.

Lalu dengan alasan anggaran yang diajukan terlalu mahal selain itu juga data-data yang disampaikan harus diverifikasi ulang, tawaran TrioMacan2000 itupun dianggap angin lalu. "Dengan anggaran per bulan yang hampir seratus juta kita bisa bikin program sendiri yang lebih baik. Apalagi itu datanya tidak jelas. Belum lagi kredibilitas TrioMacan2000 yang meragukan," jelas petinggi media tersebut.

Jejak akun TrioMacan2000 pun terkuak sudah. Akhirnya akun pseudonim itu berubah menjadi akun riil. Kicauan memang bisa online, tapi uang adalah barang offline yang hanya bisa mengalir secara online karena ada rasa saling percaya.


Pernah sekali waktu Wiranto, Ketua Umum, sekaligus calon presiden dari Partai Hanura menyinggung persoalan tingkat pendidikan calon presiden 2014. Ia menyebut bahwa calon presiden semestinya minimal pendidikan S-1, tidak cuma dari tamatan SMA. Dengan itu, Wiranto sebenarnya hendak menyinggung capres seperti Dahlan Iskan, yang memang hanya tamatan Madrasah Aliyah.

Singgungan dari Wiranto ini tentu masih bisa diterima. Belum seberapa. Tetapi berbeda dengan kelakuan anak buahnya, Raden Nuh yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Partai Hanura untuk dapil 2 Sumatera Barat. Ia bukan hanya melakukan kampanye negatif, namun juga berupaya untuk menjegal, serta membunuh karakter Dahlan Iskan dengan serangkaian issue. Termasuk issue korupsi yang coba dikait-kaitkan dengan Dahlan Iskan.

Raden Nuh, sebagaimana di tulisannya di kompasiana adalah pencetus akun Triomacan 2000. Ini merupakan akun yang kerap menyerang tokoh publik. Tujuannya untuk menjatuhkan dan membunuh karakter dari lawan politik pesanannya. Akun ini tidak bakal menyerang tokoh yang ia lindungi, seperti Wiranto dan Anas Urbaningrum. Wiranto jelas karena memiliki pertalian dengan Hanura, yang menjadi perahu Raden Nuh sebagai caleg. Sementara, Anas Urbaningrum memiliki pertalian keorganisasian dengan Raden Nuh, yakni sesama alumni HMI.

Setiap membaca tulisan Raden Nuh tentang Dahlan Iskan di Kompasiana, dapat segera tergambar ekspresi dari kebenciannya. Ia menuliskan bahwa Dahlan Iskan terlibat tindak pidana korupsi beserta argumennya yang sama persis didengungkan oleh akun Triomacan 2000. Argumen yang cenderung mengarah ke fitnah. Ia juga menuliskan secara terbuka, upaya rekan sejawatnya di Jaringan Advokasi Publik (JAP) untuk menjegal Dahlan Iskan.

Pernah mendengar JAP itu? Orang-orangnya antara lain rekan-rekan Raden Nuh di Penerbit Asatu Perdana Bangsa. Seperti Edi Syahputra dan Irwandi Lubis yang menjadi penasehat hukum di penerbit Asatu. Raden Nuh sendiri di situ merupakan pemimpin umum. JAP ini lah yang melaporkan Dahlan Iskan ke Mabes Polri, tidak ke KPK dengan alasan KPK sibuk karena sedang banyak menangani kasus. JAP juga mengirim surat ke Ketua Konvensi Capres Demokrat. Mereka hendak memohon peninjauan ulang kepesertaan Dahlan Iskan pada Konvensi Capres Demokrat.

Dari tindak tanduk JAP sebetulnya mulai tergambar ke mana tujuan mereka. Dengan melaporkan ke Mabes Polri, mereka berharap dapat menjebloskan Dahlan Iskan ke penjara. Sementara dengan mengirim surat ke panitia konvensi, mereka berharap Dahlan Iskan didiskualifikasi. Kedua upaya itu merupakan bentuk pembunuhan karakter serta penjegalan dari pencapresan Dahlan Iskan.

Adakah Raden Nuh dan rekan sejawatnya itu sedang kalut? Apakah Dahlan Iskan dianggap sebagai saingan potensial Wiranto yang perlu disingkirkan? Atau kah ini merupakan pelampiasan dari dendam pribadi atau kelompok? Dendam pribadi Raden Nuh mungkin bisa saja begitu. Pasalnya, Raden Nuh tidak lagi dipakai sebagai Direktur Utama BUMN setelah gagal membangkitkan PT. Berdikari Insurance (Persero).


Dendam kelompok juga bisa jadi. Itu karena anggota kelompoknya, Anas Urbaningrum disingkirkan oleh Partai Demokrat. Partai yang melibatkan Dahlan Iskan sebagai bakal capresnya di konvensi. Barangkali karena Dahlan Iskan yang berpotensi menang di konvensi maka perlu juga dihancurkan?


Saya tidak percaya dengan apa yang dituliskan Raden Nuh di profil kompasiana: “Tidak semua bisa dibeli dengan uang terutama idealisme perjuangan. Hilangkan mental budak yang jadikan kita abadi sebagai manusia jajahan. Bebaskanlah diri kita. Jadilah manusia yang MERDEKA ! “ Kalau lah dia konsisten dengan ini. Yang terjadi bakal sebaliknya. Ia akan mendukung perjuangan Dahlan Iskan untuk memajukan negeri ini.


Di Indonesia, hanya sedikit pejabat yang mau berkorban untuk Negara. Pejabat yang rela tidak dibayar, tidak menggunakan fasilitas Negara, tidak kompromi dengan praktik korupsi, namun justru mengeluarkan segenap tenaga dan pikirannya, bahkan berani mengeluarkan uang dari kocek pribadi untuk membangun negerinya. Dari yang sedikit itu, Dahlan Iskan lah salah satunya. Dia bahkan rela mewakafkan dirinya untuk kemajuan dan kemaslahatan negeri ini.


Kompetisi antar capres di Pemilu sah-sah saja. Saling serang sewajarnya, masih boleh lah. Tetapi pembunuhan karakter, seperti yang dilakukan Raden Nuh dan rekan-rekannya sangat lah berlebihan. Bukan kah dia sendiri pernah merasakan bagaimana sakitnya dikerjai dan difitnah (yang ia sebut sebagai pembunuhan karakter) oleh Beritasatu.com? Atau mungkin dia mau merasakan kembali dikerjai seperti itu? Entahlah.[]



Data diperoleh dari berbagai sumber.


Update News By : @N_besar