Kalau Pendukung Prabowo & Jokowi Mau Jujur

Table of Contents
Kalau Pendukung Jokowi Mau Jujur


CAHYOGYA.COM - Media berita aneka tips dan pengetahuan baru terlengkap. Menjelang pemilu presiden yang juga merupakan ajang perubahan bangsa, Beberapa bulan lalu sebelum ini saya banyak  membaca dan megumpulkan artikel yang sifatnya mencari fakta dan dengan banyak riset. Tapi bahkan fakta dan riset itu bisa dibuat bias atau mengawang-awang untuk mendukung hipotesa tertentu. Selain itu, sudah terlalu banyak berita dan analisa yang beredar, agak berat untuk melihat semuanya. 

Jadi menjelang 9 Juli yang sudah dekat, saya ingin menulis sejujur mungkin tanpa bersikap defensif. Meskipun orang tau dengan pilihan saya. Tapi sesungguhnya inilah representatif dari apa yang saya dapatkan selama ini.

Jokowi is not the solution, but he opens the access for the smart people to be the solution.

Menurut saya masalah yang paling sering dihadapi di Indonesia adalah sangat banyak orang-orang di pemerintahan yang stereotipenya adalah orang-orang yang tidak efisien, dan tidak punya inisiatif. Sementara pemimpinnya seperti orang-orang yang gila hormat – bahkan ada yang ga mau jalan kecuali di karpet merah – mental diva pop, tapi kinerja keroncong rusak. Semua teman-teman juga banyak yang capek dengan hal ini. Setidaknya 50% isi media sosial saya adalah teman-teman yang mengeluh betapa “ga becusnya” pemerintah kita.


Saya pernah membaca cerita seseorang PNS yang bekerja di Pemkot, dan bertanya di kolom komentar. Kenapa sih Jokowi bisa membawa perubahan. Karena sebetulnya, orang-orang Pemkot ini pintar dan efektif ko (tidak seperti stereotipe pegawai negeri umumnya). Tapi kenapa mereka baru mulai kelihatan saat Jokowi jadi pemimpin. Kan ngga mungkin dia bisa sebegitunya membuat orang jadi pintar. 

Waktu saya tanya, dia bilang “Justru itu, pemerintahan itu didominasi orang yang senior, orang yang dituakan, orang yang berpangkat… bukan orang yang pintar. Jokowi itu mau mendengar orang yang pintar dan inisiatif. Ga senioritas, ga peduli struktur dan birokrasi”.

Dari situ saya mulai memahami istilah “revolusi mental”. Revolusi berarti datang bersama-sama dari masyarakat. “Revolusi Mental” berarti kita bersama-sama menjadi bagian dari perubahan ini. Kenapa Jokowi? Karena dia memberikan akses untuk orang-orang pintar tidak tertutup dibalik “senioritas” dan “birokrasi”.


Kalau saya boleh jujur, ide ada seseorang yang tegas yang memimpin dan mengubah seperti Pak Prabowo lebih menarik. Lebih simple dan mengena. Tapi saya mulai bertanya-tanya, apakah saya juga adalah produk orde baru? Ide yang lebih mengena untuk saya adalah ide dipimpin jika Prabowo menang. Sementara ide menjadi bagian dari revolusi Jokowi justru terasa lebay.

Karena kalau kita hanya mengandalkan satu orang, kita menggunakan sistem “kepercayaan”. Seperti halnya kita “percaya” pada Soeharto. Kalau kita menggunakan konsep pemimpin dan pengayom, kita tinggal duduk dan melihat. Seperti halnya kita punya “Bapak” Pembangunan.

Kalau saya boleh jujur lagi, saya juga kecewa Jokowi berpasangan dengan JK yang dekat dengan Pemuda Pancasila, sama halnya saya juga kecewa Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa, dan mendapat dukungan FPI. Saya juga kecewa Jokowi diusung oleh PDI-P, partai yang pemimpinnya tidak menyelesaikan isu HAM, dan didukung oleh Wiranto dan Hendropriyono; sama halnya saya juga kecewa Prabowo berkoalisi dengan GOLKAR, PPP dan PKS yang terlibat sangat banyak kasus korupsi dan juga menjanjikan kurang lebih 11 kursi pada koruptor tersebut. Saya juga kecewa Jokowi melanggar amanah Gubernur; sama halnya saya juga kecewa Prabowo banyak melanggar janji terkait pluralisme dan mengganti manifesto partai menjadi melindungi kemurnian ajaran agama, akan mengatasi korupsi tapi mengatakan Bakrie “Pahlawan Rakyat” dan membela Suryadharma Ali. Saya juga kecewa Jokowi seolah melanggar peraturan kampanye KPU; sama halnya saya kecewa kampanye Prabowo terkait penggambaran Hitler Ahmad Dani, isu money politik, pemalsuan survey, dll.

Jujur, saya kecewa sama dua-duanya saat saya banyak membaca dan menganalisis lebih jauh tentunya dengan pikiran terbuka.

Mungkin ini waktunya menerima bahwa jawabannya bukan terletak di satu orang, baik Jokowi maupun Prabowo.

Menurut saya,  baik Jokowi maupun Prabowo bukan merupakan jawaban. Kalau mau perubahan, waktunya untuk berhenti berfokus pada figur. Jokowi bukan malaikat. Prabowo bukan macan tegas. Mereka dua-duanya ORANG. Kalau mau perubahan, jawabannya adalah kita sendiri. Jawabannya bukan satu individu. Jawabnnya adalah KITA.

Kita harus menganalisa siapa yang bisa membuat sistem yang mengizinkan KITA untuk menjadi jawaban.

Jangan terfokus pada banyak sekali berita kejelekan dan kebaikan Jokowi dan Prabowo.Terlalu banyak, pusing sendiri. They are not the  main reasons, they are distractions.

Intinya apa isu prioritas kita? Kemiskinan?

Siapa yang bisa mengatasi korupsi dan kemiskinan? Bukan retorika “blusukan” Jokowi dan bukan  retorika “bocor” Prabowo. Jawabannya adalah kabinet yang bersih dan mau kerja, kemudian peran kita mendukung kabinet bersih dengan bayar pajak dan menjalankan program yang tepat sasaran.

Pertanyaan yang bisa kita jawab adalah kandidat mana yang masih mungkin punya kabinet bersih dan orang-orang yang kompeten? Kandidat mana yang sudah menjanjikan posisi? Kalau kandidat tersebut menjanjikan posisi, ayo kita analisa apakah orang yang dijanjikan akan bisa menjadi bagian dari kabinet bersih?

Waktunya jujur. Waktunya riset. Waktunya menganalisa. Terserah jawabannya apa. 

Apalagi isu prioritas kita?

Kalau saya boleh jujur, isu HAM bukan isu prioritas saya. Kalau buat saya itu rasanya mengawang-awang. Isunya aktivis. Bukan isu saya.  Lucunya satu teman saya memang memberitahu bahwa di Indonesia lebih gampang dapat dukungan untuk isu hak hewan yang disiksa dibandingkan isu HAM. Tapi kalau bener-bener jujur, isu itu rasanya jauh dari saya. penuh dengan teori konspirasi dan politik yang saya ga ngerti.

Tapi saya pernah mengalami satu kasus dimana saya diperlakukan tidak adil. Saat itu,saya marah bukan hanya pada orang yang memperlakukan saya tidak adil. Tapi pada orang-orang sekitar saya yang diam saja. 

Disitu saya belajar bahwa isu HAM adalah masalah keadilan. Bagaimana kita bisa yakin negara kita adalah negara yang adil? Kalau kita memperhatikan isu HAM. Jadi sekarang saya merasa isu HAM adalah isu penting. Ini mengukur kemampuan kita berempati, mengukur rasa keadilan kita dan menjamin sebuah sistem bahwa nantinya kita juga tidak akan diperlakukan tidak adil.

Ini bukan serta-merta saya menganggap Prabowo bersalah. Belum ada proses pengadilan untuk membuktikan beliau bersalah kok. Dan terlalu banyak cerita, saya ga tau mana yang benar. Seperti yang saya bilang sebelumnya terlalu banyak konspirasi dan politik buat orang awam seperti saya. Saya tidak mau percaya pada cerita ataupun pada figur.

Tapi yang saya yakin adalah, saya menganggap isu HAM penting karena berkaitan langsung dengan kebebasan & keadilan setiap warga negara.

Siapa yang bisa mengatasi isu HAM ini? Bukan Jokowi dan bukan Prabowo. Jawabannya ya Pengadilan HAM. Kemudian peran kita mengawasi pengadilan HAM ini.

Pertanyaan yang bisa kita jawab dengan jujur adalah kandidat mana yang paling mungkin membentuk Pengadilan HAM Adhoc ini. Pengadilan HAM harus ditandatangani oleh Presiden, sebelum bisa dijalankan untuk melakukan investigasi. Siapa Presiden yang paling mungkin menandatangani? Siapa Presiden yang sudah membuat komitmen menangani kasus HAM? Siapa Presiden yang menulis di manifesto partainya bahwa Pengadilan HAM tidak dirasa perlu? Siapa Presiden yang paling sedikit konflik kepentingan dalam membentuk Pengadilan HAM?

Waktunya jujur. Waktunya riset. Waktunya menganalisa dengan pikiran terbuka. Terserah jawabannya apa. 

Kita sudah melewati masa penuh diktator Orde Baru yang berarti kita sudah tidak lagi hanya duduk diam percaya pada sosok pemimpin. Saya bermimpi ingin menjadi warga dari negara yang makmur, bersih dan adil. Saya tidak percaya pada Prabowo atau Jokowi. Kita saat ini bukan lagi memilih seorang Presiden atau Wakil presiden, tapi kita juga memilih siapa yang akan bekerja dibelakang mereka. Saya akan berfikir terbuka dan menganalisa siapa yang membuat sistem yang mengizinkan SAYA untuk jadi bagian dari solusi untuk membentuk negara yang saya impikan. Saya harap anda melakukan hal yang sama.


Salam,

Update News By : @N_besar


Post a Comment