Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

City of Lies, Lagu Baru Gust Berisi Kritik pada Oligarki



CAHYOGYA.COM - Meski sudah lebih dari 1,5 tahun panggung hiburan mandek akibat pandemi virus covid-19, namun ternyata hal ini tak menyurutkan semangat berkarya para musisi.

Salah satunya adalah Gustidin Muhammad atau yang biasa dipanggil Gust. Musisi yang juga merupakan seorang trader dan praktisi cryptocurrency tersebut baru-baru ini merilis lagu berjudul City of Lies.

Melihat dinamika industri musik dalam kondisi seperti sekarang ini membuat Gust mencoba untuk melantai kembali ke skena musik Indonesia setelah sebelumnya sukses merilis mini album pada tahun 2015 silam.

Gust kembali hadir lewat single City of Lies, sebuah lagu berisi kritikan pada oligarki yang dikemas dalam aransemen electro pop retro yang menarik serta easy listening.

Sebelum resmi rilis di platform musik digital pada 12 Juli 2021 lalu, proses penggarapan lagu City of Lies sendiri dilakukan dengan menggandeng beberapa producer/composer handal. Sebut saja Faishal Hafizh dwiantara dari stud studio, Nuno satrida dari Mantra recording Indonesia dan Rocky Daniel dari Tin Man audiolab.

Pria bernama lengkap Gustidin Muhammad itu meramu aransemen musik pop-elektronik dalam lagu City of Lies yang berkolaborasi dengan sejumlah komposer dan produser di atas. Lagu menjadi semakin apik berkat sentuhan mixing dan mastering oleh Nuno satrida.

Viral di Media Sosial


Lagu City of Lies viral di media sosial, sang penyanyi Gust tak menyangka animo masyarakat pada lagunya begitu besar. Padahal, genre lagu miliknya itu cenderung masih sedikit peminatnya.

"Biasanya, kan, lagu cinta-cintaan atau apalah. Nah ini, kok, genrenya electro pop retro tapi temanya dunia tipu-tipu, oligarki dan sindiran ke kaum elite. Tapi mereka suka," ujar Gust.

Lagunya dinilai sangat relevan dengan situasi dan kondisi hari-hari ini. Dari lagu sindiran pada kaum elit tersebut menandakan bahwa masyarakat sudah sangat lelah dengan perilaku oligarki.

Lagu City of Lies milik Gust dinilai cukup mewakili suara hati para pendengarnya. Terlebih dikemas dengan musik yang easy listening, sehingga sangat nyaman untuk didengar sehari-hari.

Biasanya lagu-lagi kritik pada oligarki dikemas dengan nada menghentak dan menonjolkan suara yang kuat, namun lagu milik gust disajikan berbeda. Pendengar masih bisa menikmati lagu ini tanpa pusing meski pesan yang dibawakan berisi kekesalan pada oligarki.

Sebagai informasi, sebelumnya pada tahun 2015 silam Gust telah merilis mini album berjudul Stop The Pain yang berisikan empat buah lagu. Sementara lagu City of Lies sendiri dirilis di platform musik digital pada 12 Juli lalu, di bawah naungan producer Faishal Hafizh Dwiantara dari Stut Studio, Nuno Satrida dari Mantra Recording Indonesia dan Rocky Daniel dari TinMan Audiolab.

"Lagu ini tentang dunia tipu-tipu, bukan cuma di sosmed umbar-umbar kesuksesan, kekayaan, ke-hype-an atau apalah yang bohongan. Tapi juga tipu-tipu di dunia politik hingga investasi yang melibatkan kaum elit. Konteksnya seluruh dunia lho, ya, jangan baper. haha," kelakarnya.

Bukan Cuma Seorang Musisi


Terlihat dari halaman akun Instagram pribadinya @ggguuusssttt, Gust bukan hanya seorang seniman namun juga seorang trader, Investment advisor dan praktisi cryptocurrency. Dia pun terlihat suka traveling dan suka menyampaikan argumen kritis terhadap keadaan sekarang.

Wah semoga generasi New Mind seperti Gust ini mempunyai panggung tersendiri di industri musik Indonesia bahkan internasional ya.

Bagi Anda yang ingin mendengarkan single City of Lies dari Gust, saat ini sudah bisa dinikmati melalui layanan musik streaming Spotify.


Kamu suka artikel di atas? Jika suka silakan klik bagikan pada artikel ini 

CAHYOGYA.COM - Situs Anak Muda Jogja